Kesimpulan dan Tafsir Surat Al Kahfi Ayat 29

Advertisement
Kesimpulan Surat Al Kahfi Ayat 29 - Al-Qur’an Surat Al-Kahfi secara umum mengisyarahkan bahwa umat Islam harus berani menyatakan sikap secara tegas dalam hal kebenaran. Kita dibolehkan untuk mengakui kebathilan itu memang ada di dunia ini, tetapai bukan berarti mengakui dan menyetujui bahwa yang batil itu adalah benar. Yang benar harus tetap diposisikan sebagai kebenaran begitu juga sebaliknya. Antara kenenaran dan kebatilan tidak boleh dicampur-adukkan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

‘dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui’. (Q.S Al-Baqarah/2: 42).

Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. (QS Al-Kahfi/18: 29)

Ada tiga pandangan para mufassir dalam memahami Frase dari ayat di atas; pertama Menurut Ibn Abbas ayat ini menunjukkan kebebasan dalam menerima atau menolak ajaran agama. Kedua, menurut Az-Zujjaj ayat ini merupakan ancaman dan peringatan bukan perintah bebas memilih. Ketiga Al-Mawardi ayat ini menjelaskan bahwa keberadaan manusia menerima atau menolak agama Islam bagi Allah Swt. tidak ada pengaruhnya, keimanan mereka tidak akan memberikan manfaat bagi-Nya begitu juga kekafiran mereka juga tidak akan mencelakakan-Nya.

Menurut penulis dalam memahami Frase dari ayat di atas adalah bahwa kebenaran ajaran agama Islam searusnya diimani dengan diikrarkan di dalam hati, dinyatakan melalui lisan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi bagi Allah Swt. pada dasarnya Dia tidak memaksa dalam soal agama (Q.S. Al-Baqarah/2: 256), maka bebas saja bagi setiap manusia untuk memilih jalan iman atau kafir.

Allah Swt. hanya memberikan pilihan-pilihan, ada pilihan yang baik dan ada juga pilihan yang buruk. Lalu Dia berikan petunjuk-Nya melalui utusan-utusan-Nya di muka bumi selanjutnya manusia diwajibkan untuk melakukan ikhtiyar yakni berusaha memilih di antara pilihan-pilihan takdir yang sudah Allah Swt. tetapkan tersebut. Siapa yang memilih kebaikan lalu dibuktikannya dengan perbuatannya, maka sebesar apapun kebaikannya akan diperlihatkannya, begitu sebaliknya sekecil apapun perbuatan buruk juga akan diperlihatkan kepadanya, sebagaimana Firman-Nya:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya . Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Q.S. Al-Zalzalah/99: 7 – 8)

Siapa yang beramal shaleh, dan amal shalehnya tersebut dilandasi dengan keimanan kepada Allah Swt., maka dijamin ia tidak bisa dizhalimi oleh siapa pun dan dijamin tidak akan dikurangi sedikit pun haknya sebegaiman firman Allah Swt. berikut:

Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. (Q.S. Thaha/20:112).

Begitu sebaliknya bagi orang yang bebuat keburukan tidak akan lepas dari pandangan Allah Swt. dan hukuman-Nya.

Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek (QS Al-Kahfi/18: 29)

Yang dimaksud  orang-orang yang zhalim dalam ayat di atas adalah orang-orang kafir yakni mereka yang memilih tidak menerima kebenaran ajaran Islam. Kelak di hari perhitungan amal mereka tidak lagi dilihat dan hitung, amal mereka hancur dan rusak tidak ada artinya (Q.S. Al-Kahfi/18: 102 – 105). Bagi mereka disediakan siksaan yang pedih dengan dimasukkan ke dalam satu tempat yang diliputi dan dikepung oleh gejolak api sebagai lambang dan sumber penderitaan.

Di dalam tempat tersebut tidak tesedia makanan dan mimuman yang diinginkannya. Minuman yang ada hanyalah air yang sangat panas seperti cairan besi yang panasnya lebih dari 1000 derajat cilcius yang apabila diminum dapat menghapuskan muka mereka dan menghancurkan usus-usun mereka. Makanan yang ada hanya makanan seperti duri yang tidak dapat menggemukkan dan menghilangkan rasa lapar. (Q.S. Al-Ghasyiyah/88: 67).

Keberadaan makanan dan minuman seperti yang digambarkan di atas merupakan makanan dan minuman yang paling buruk. Dan tempat yang di dalamnya hanya terdapat makanan dan minuman yang demikian itu adalah tempat terburuk yang menjadi sumber berbagai macam kepedihan dan pendirataan yang tidak ada habis-habisnya, juga berlaku selama-lamanya.

Bagi kita, umat Islam harus tetap mempertahankan bahwa agama Islam satu-satunya agama yang benar  yang dapat mengantarkan pengikutnya untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Sebab itu toleransi bagi umat Islam harus difahami kebersamaan antar umat beragama dalam urusan hidup bermasyarakat ansih, tidak sampai pada kebersamaan dalam beramal dan beribadah apalagi mencampur-adukkan ajaran-ajaran tauid.

Setiap manusia akan bertanggung jawab atas dirinya masing-masing sesuai sesuai pilihan jalan yang ditempuh dan perbuatan yang dilakukannya. Tidak ada paksaan dalam beragama, Allah Swt. hanya memberikan alternatif pilihan-pilihan, manusia diperintahkan untuk berikhtiayar memilih jalan yang benar dan paling baik bagi dirinya masing-masing
Advertisement

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesimpulan dan Tafsir Surat Al Kahfi Ayat 29"

Posting Komentar